anak Berkemeja
ku pandang di salah satu sudut kedai
Duduk tersipu lugu, lucu
Seorang anak usia belasan
Berkemeja kotak-kotak
Mukanya hitam
aku pandang lebih lekat
Tangannya mengeras
Pertanda kerja keras
Anak ber-kemeja
Rupanya dia pekerja
Mengadu nasib dan tenaga
Untuk adik-adik bersekolah
Cung…
Semoga Tuhan melihatmu dari langit
Lalu Dia iba
Dan menuliskan nasib baru untukmu
Cung..
Malam mulai hilang
Meskipun pagi tak sepenuhnya jujur.
Pulang lah
Jarah
Jarah
Aku merindu kota sepi
Tat kala waktu
Datang seperti kereta
Lurus arus maju
Hanya kita berdua
Di seberang Rel berusia ratusan
Bantalanya adalah tubuh-tubuh orang tua kita
Sudah waktu berlari puluhan kilometer per jam
Bau anyir darah masih serupa
Aku merindu kota sepi
Gadis –gadis berdandan menor
Menawar diri
Kota
Sepi
Dimana kau kini?
Aku cari samapi lubang semut
Oh..kota sepi
Aku merindumu
Kepada Kehidupan
Pada hari ini aku sadar betapa hidup adalah mencintai dan dicintai, lalu membenci dan di benci. Tanpa itu semua dunia tak akan sebagaimana adanya.
Mengenai rindu yang berubah menjadi siksa, sayang. Kisah-kisah ini datang silih berganti, seperti kabut di lembah merapi yang sering kita sambangi. Untuk sekedar merefleksikan apa yang kita pelajari dari bangku-bangku tua bernama universitas atau bercerita tentang impian masing-masing dan rencana di hari esok. Tentunya sembari di temani kopi tubruk yang mulai aku sukai sejak petama kali bertemu engkau dan hati ini menjadi milikmu di detik itu juga.
Pagi ini kabut tipis turun pelan, se-pelan langkah kakimu menjumpaiku di beranda. “selamat pagi”, dan segelas kopi tubruk sudah berada tepat di depanku, asapnya melambai mengajak siapa saja untuk segera mencium bibir gelasnya. Dengan pelan tanganmu berada di pundakku lalu meremasnya penuh kelembutan, aku sangat suka saat seperti ini. Aku tengok parasmu dan “selamat pagi”. Tuhan..,pandanganku kabur kepalaku berkunang-kunang, dunia menjadi gelap. Engkau dengan blues merah maron dan shal putih melilit lehermu yang anggun. Lebih indah dari kabut pagi, barisan pinus lembah kali adem sekalipun keangkuhan merapi.
Sayang, mari kita bercakap mengenai kehidupan lalu kita tujukan kepada kehidupan.
Pagi aku buka jendela lebar-lebar
Hanya untuk mendapat sapaanmu selembut dulu
Dan kita besepakat
Mengenai kehidupan se-rumit ini
Kita bersepakat mengurainya bersama
Menganggap bahwa hidup dan kehidupan sebagai musuh bersama
Puisi Gie
Berbicara tentang Soe Hok Gie tentu tidak bisa meninggalkan sastra.walau pun saat ini karya sastra Gie, yang kebanyakan puisi tidak menjadi ukuran dunia satra Indonesia. Gie dalam karyanya yang lain pun, entah itu esay, artikel atau opini umum hampir selalu menggunakan bahasa sastra. bagi saya ini merupakan taktik sikologis untuk bagaaimana pembaca tulisan Gie menjadi “kerasan” dan “terngiang” dan tentu saja amanat dalam tulisan tersebut masuk sampai sanubari pembaca tulisan Gie.
Gie dengan puisinya selalu menarik untuk di perbincangkan. Berkobar, halus dan dalam itu kesan pertama yang saya dapatkan ketika membaca tiga puis gie. berikut ini puisinya
Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba
Pada hari yang biasa
Pada suatu ketika
Yang tak pernah kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku meminum susu dan tidur lelap
Sambil mebenarkan leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelanpelan di lembah kasi
Lembah mandala wangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan yang mulai suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku seperti dulu
Ketika ku dekap kau dekap lebih mesra
Lebih dekap
Apakah kau masih berkata
Ku dengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Hari pun menjadi malam
Wajahwajah mulai muram
Wajahwajah yang tidak kita kenal
Berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti
Seperti kabut pagi itu
Karena kemanusiaan
Aku tak tau mengapa
Aku merasa melankoli mala mini
Aku melihat lampulampu kerucut
Dan lalu lintas Jakarta dengan warnawarna baru
Seolah-olah semuanya di terjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan
Semuanya terasa mesra
Tapi kosong
Seolah-olah aku merasa diriku yang lepas
Dan bayangbayang menjadi puitis sekali di jalanjalan
Perasaan yang amat kuat menguasaiku aku ingin memberikan rasa cinta kepada manusia.
Tentang Tujuan
Ada orang yang menghabiskan waktunya di mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya di miraza
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjinganjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bungabunga yang manis di lembah mandala wangi
Ada serdaduserdadu amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayibayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang satu setanpun tak tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra
Yang pernah baik padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa
Akhir Bulan Delapan
Sudah dua malam aku mengkutuki diri sendiri
Bulan tetap di utara dengan senyum mengejek
Dan gerimis mengancam dengan ujungujung runcing
Menengok anak kecil pengemis stasiun kota
Sore kemarin
Kenapa harus ada tanggal tua?
Kenapa gaji di berikan awal bulan?
Dan kenapa tiap tanggal tigapuluh
Aku slalu tidak punya duit
lalu mengutuki diri sendiri seraya berdo’a
Tuhan jika memang Engkau ada
Matikan anak itu
Lahirkan kembali sebagai orang layak
Apakah Cinta Kita Utuh
-di balik remang malam
Di naungi hujan sayang
Aku bersamamu dalam bentuk lain
Walau hari ini kita tak pernah satu ruang
Aku bersamamu sayang
Lalu di malam ini apakah cinta kita utuh setelah aku bagi dengan Tuhan.
Sayang sembari menghitung rintik fikirkanlah cinta kita, cinta yang tersekat dinding tebal bernama agama. Dinding yang berdiri kokoh atas nama norma dan susila.
Sayang sanggupkah engkau dan aku merobohkan bangunan kemunafikan, bahwa kita memang saling mencintai?
Sayang benarkah kebersamaan kita adalah ruang, waktu yang padu?
Sayang apakah cinta kita utuh?
Teruntuk Adinda
lamatlamat perasaanku meruncing
berkehendak menikam kesabaran
rembulan menjadi perak lalu tangismu mencekam keheningan
lamatlamat perasaanku menumpul memupuk kesabaran
angin
laut
rintik
badai
menerjemahkan luka
menusuk ulu hati
di rendarenda kerudung tanda hijab yang kau kenakan tadi malam aku menaruh pesan “besok pagipagi sekali pergilah ke kebun belakang rumah, petikan aku beberapa kuntum melati agar bisa selalu menghadirkanmu dalam tiap sepi”
lalu di bilah masih rindu yang biasa kita tiduri, seekor kucing melirik padaku dan berkata “berangkatlah tidur esok pagi masih ada hari”. seterusnyadi garis kertas tulisaku mengeja namamu dengan enam huruf kapitalbesarbesar lampu padam. Pada hari yang lain di selasela rindu padamu malam ini.aku selipkan doadoa masa tua, tentang tanah sebidang dan rumah sederhana
Lalu namamu memenggal sepi, penyakit yang aku derita dua tahun ini.
Labirin BangkuBangku Kusam
Malam yang merdu
Dihiasi angin malam dan senandung cangkir berdentang
“ini bukan lagi saat kita bercinta”
Dengan ideide kusam
Lalu berakhir di ujung pembicaraan
Hampir sama uforia
Kunangkunang di siang bolong melompong kacang polong
Dan bangkubangku kusam sekitar lima belas
Disertai deret kepala
Menjelma jadi jalanan yang tak pernah aku kenal
Jika Saja Tuhan Karibku
Jadikanlah Darussalam rumahku
Lalu kawanku
Tetanggaku
Bangsaku
Tentu jika saja Tuhan karibku
Berikanlah RahmatMu
Pada pemimpin Negeri surga ini
Pada saudarasaudaraku
jika saja Tuhan karibku
tak kan aku pinta diriku sendiri
Puisi Bercerita
Puisi Becerita
Pada ilalang di sepucuk tetaman
Lalu aku gantungan beberapa harap tentangmu
Dan pada jendelajendela setengah kaca yang mulai lapuk terdesir angin
Beberapa tahun lalu
Mencintaimu menjadi candu
Sebab akan terasa asing di pembuluh darahku
Jika satu hari aku tak lagi menangkap sketsa wajahmu
Lengkukan bibirmu
Sedayu kedipanmu
Jika saja Tuhan menjadi karibku
Hanya aku akan meminta
Tetapkanlah ingatanmu padamu.
tinggalkan komentar