Seroja Sunyi

anak Berkemeja

Posted in Tak Berkategori by akid aunulhaq on Juni 6, 2011

ku pandang di salah satu sudut kedai

Duduk tersipu lugu, lucu

Seorang anak usia belasan

Berkemeja kotak-kotak

Mukanya hitam

aku pandang lebih lekat

Tangannya mengeras

Pertanda kerja keras

Anak ber-kemeja

Rupanya dia pekerja

Mengadu nasib dan tenaga

Untuk adik-adik bersekolah

Cung…

Semoga Tuhan melihatmu dari langit

Lalu Dia iba

Dan menuliskan nasib baru untukmu

Cung..

Malam mulai hilang

Meskipun pagi tak sepenuhnya jujur.

Pulang lah

Tagged with: , , , , ,

Jarah

Posted in Puisi-Puisi by akid aunulhaq on Mei 23, 2011

Jarah

Aku merindu kota sepi

Tat kala waktu

Datang seperti kereta

Lurus arus maju

Hanya kita berdua

Di seberang Rel berusia ratusan

Bantalanya adalah tubuh-tubuh orang tua kita

Sudah waktu berlari puluhan kilometer per jam

Bau anyir darah masih serupa

Aku merindu kota sepi

Gadis –gadis berdandan menor

Menawar diri

Kota

Sepi

Dimana kau kini?

Aku cari samapi lubang semut

Oh..kota sepi

Aku merindumu

Kepada Kehidupan

Posted in Puisi-Puisi by akid aunulhaq on April 7, 2011

Pada hari ini aku sadar betapa hidup adalah mencintai dan dicintai, lalu membenci dan di benci. Tanpa itu semua dunia tak akan sebagaimana adanya.

Mengenai rindu yang berubah menjadi siksa, sayang. Kisah-kisah ini datang silih berganti, seperti kabut di lembah merapi yang sering kita sambangi. Untuk sekedar merefleksikan apa yang kita pelajari dari bangku-bangku tua bernama universitas atau bercerita tentang impian masing-masing dan rencana di hari esok. Tentunya sembari di temani kopi tubruk yang mulai aku sukai sejak petama kali bertemu engkau dan hati ini menjadi milikmu di detik itu juga.

Pagi ini kabut tipis turun pelan, se-pelan langkah kakimu menjumpaiku di beranda. “selamat pagi”,  dan segelas kopi tubruk sudah berada tepat di depanku, asapnya melambai mengajak siapa saja untuk segera mencium bibir gelasnya. Dengan pelan tanganmu berada di pundakku lalu meremasnya penuh kelembutan, aku sangat suka saat seperti ini. Aku tengok parasmu dan “selamat pagi”. Tuhan..,pandanganku kabur kepalaku berkunang-kunang, dunia menjadi gelap. Engkau dengan blues merah maron dan shal putih melilit lehermu yang anggun. Lebih indah dari kabut pagi, barisan pinus lembah kali adem sekalipun keangkuhan merapi.

Sayang, mari kita bercakap mengenai kehidupan lalu kita tujukan kepada kehidupan.

Pagi aku buka jendela lebar-lebar

Hanya untuk mendapat sapaanmu selembut dulu

Dan kita besepakat

Mengenai kehidupan se-rumit ini

Kita bersepakat mengurainya bersama

Menganggap bahwa hidup dan kehidupan sebagai musuh bersama

 

Puisi Gie

Posted in Puisi-Puisi by akid aunulhaq on Maret 29, 2011

Berbicara tentang Soe Hok Gie tentu tidak bisa meninggalkan sastra.walau pun saat ini karya sastra Gie, yang kebanyakan puisi tidak menjadi ukuran dunia satra Indonesia. Gie dalam karyanya yang lain pun, entah itu esay, artikel atau opini umum hampir selalu menggunakan bahasa sastra. bagi saya ini merupakan taktik sikologis untuk bagaaimana pembaca tulisan Gie menjadi “kerasan” dan “terngiang” dan tentu saja amanat dalam tulisan tersebut masuk sampai sanubari pembaca tulisan Gie.

Gie dengan puisinya selalu menarik untuk di perbincangkan. Berkobar, halus dan dalam itu kesan pertama yang saya dapatkan ketika membaca tiga puis gie. berikut ini puisinya

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba
Pada hari yang biasa
Pada suatu ketika
Yang tak pernah kita ketahui

Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku meminum susu dan tidur lelap
Sambil mebenarkan leher kemejaku

Kabut tipis pun turun pelanpelan di lembah kasi
Lembah mandala wangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan yang mulai suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku seperti dulu
Ketika ku dekap kau dekap lebih mesra
Lebih dekap
Apakah kau masih berkata
Ku dengar detak jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Hari pun menjadi malam
Wajahwajah mulai muram
Wajahwajah yang tidak kita kenal
Berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti
Seperti kabut pagi itu

Karena kemanusiaan

Aku tak tau mengapa
Aku merasa melankoli mala mini
Aku melihat lampulampu kerucut
Dan lalu lintas Jakarta dengan warnawarna baru
Seolah-olah semuanya di terjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan
Semuanya terasa mesra
Tapi kosong
Seolah-olah aku merasa diriku yang lepas
Dan bayangbayang menjadi puitis sekali di jalanjalan

Perasaan yang amat kuat menguasaiku aku ingin memberikan rasa cinta kepada manusia.

Tentang Tujuan

Ada orang yang menghabiskan waktunya di mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya di miraza
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjinganjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bungabunga yang manis di lembah mandala wangi

Ada serdaduserdadu amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayibayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang satu setanpun tak tahu

Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra
Yang pernah baik padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa

Akhir Bulan Delapan

Posted in Puisi-Puisi by akid aunulhaq on Maret 6, 2011

Sudah dua malam aku mengkutuki diri sendiri

Bulan tetap di utara dengan senyum mengejek

Dan gerimis mengancam dengan ujungujung runcing

Menengok anak kecil pengemis stasiun kota

Sore kemarin

 

Kenapa harus ada tanggal tua?

Kenapa gaji di berikan awal bulan?

Dan kenapa tiap tanggal tigapuluh

Aku slalu tidak punya duit

 

lalu mengutuki diri sendiri seraya berdo’a

Tuhan jika memang Engkau ada

Matikan anak itu

Lahirkan kembali sebagai orang layak

 

Apakah Cinta Kita Utuh

Posted in Puisi-Puisi by akid aunulhaq on Maret 2, 2011

-di balik remang malam

Di naungi hujan sayang

Aku bersamamu dalam bentuk lain

Walau hari ini kita tak pernah satu ruang

Aku bersamamu sayang

Lalu di malam ini apakah cinta kita utuh setelah aku bagi dengan Tuhan.

Sayang sembari menghitung rintik fikirkanlah cinta kita, cinta yang tersekat dinding tebal bernama agama. Dinding yang berdiri kokoh atas nama norma dan susila.

 

Sayang sanggupkah engkau dan aku merobohkan bangunan kemunafikan, bahwa kita memang saling mencintai?

Sayang benarkah kebersamaan kita adalah ruang, waktu yang padu?

Sayang apakah cinta kita utuh?

Teruntuk Adinda

Posted in Puisi-Puisi by akid aunulhaq on Januari 21, 2011

lamatlamat perasaanku meruncing

berkehendak menikam kesabaran

rembulan menjadi perak lalu tangismu mencekam keheningan

lamatlamat perasaanku menumpul memupuk kesabaran

angin

laut

rintik

badai

menerjemahkan luka

menusuk ulu hati

di rendarenda kerudung tanda hijab yang kau kenakan tadi malam aku menaruh pesan “besok pagipagi sekali pergilah ke kebun belakang rumah, petikan aku beberapa kuntum melati agar bisa selalu menghadirkanmu dalam tiap sepi”

lalu di bilah masih rindu yang biasa kita tiduri, seekor kucing melirik padaku dan berkata “berangkatlah tidur esok pagi masih ada hari”. seterusnyadi garis kertas tulisaku mengeja namamu dengan enam huruf kapitalbesarbesar lampu padam. Pada hari yang lain di selasela rindu padamu malam ini.aku selipkan doadoa masa tua, tentang tanah sebidang dan rumah sederhana

Lalu namamu memenggal sepi, penyakit yang aku derita dua tahun ini.

Labirin BangkuBangku Kusam

Posted in Puisi-Puisi by akid aunulhaq on Desember 17, 2010


Malam yang merdu

Dihiasi angin malam dan senandung cangkir berdentang

“ini bukan lagi saat kita bercinta”

Dengan ideide kusam

Lalu berakhir di ujung pembicaraan

Hampir sama uforia

Kunangkunang di siang bolong melompong kacang polong

Dan bangkubangku kusam sekitar lima belas

Disertai deret kepala

Menjelma jadi jalanan yang tak pernah aku kenal

Jika Saja Tuhan Karibku

Posted in Puisi-Puisi by akid aunulhaq on Desember 17, 2010

Jadikanlah Darussalam rumahku

Lalu kawanku

Tetanggaku

Bangsaku

Tentu jika saja Tuhan karibku

Berikanlah RahmatMu

Pada pemimpin Negeri surga ini

Pada saudarasaudaraku

jika saja Tuhan karibku

tak kan aku pinta diriku sendiri

 

Puisi Bercerita

Posted in Puisi-Puisi by akid aunulhaq on Desember 13, 2010

Puisi Becerita

Pada ilalang di sepucuk tetaman

Lalu aku gantungan beberapa harap tentangmu

Dan pada jendelajendela setengah kaca yang mulai lapuk terdesir angin

Beberapa tahun lalu

Mencintaimu menjadi candu

Sebab akan terasa asing di pembuluh darahku

Jika satu hari aku tak lagi menangkap sketsa wajahmu

Lengkukan bibirmu

Sedayu kedipanmu

Jika saja Tuhan menjadi karibku

Hanya aku akan meminta

Tetapkanlah ingatanmu padamu.

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.