Seroja Sunyi

Kepada Kehidupan

Ditulis dalam Puisi-Puisi oleh akid aunulhaq pada April 7, 2011

Pada hari ini aku sadar betapa hidup adalah mencintai dan dicintai, lalu membenci dan di benci. Tanpa itu semua dunia tak akan sebagaimana adanya.

Mengenai rindu yang berubah menjadi siksa, sayang. Kisah-kisah ini datang silih berganti, seperti kabut di lembah merapi yang sering kita sambangi. Untuk sekedar merefleksikan apa yang kita pelajari dari bangku-bangku tua bernama universitas atau bercerita tentang impian masing-masing dan rencana di hari esok. Tentunya sembari di temani kopi tubruk yang mulai aku sukai sejak petama kali bertemu engkau dan hati ini menjadi milikmu di detik itu juga.

Pagi ini kabut tipis turun pelan, se-pelan langkah kakimu menjumpaiku di beranda. “selamat pagi”,  dan segelas kopi tubruk sudah berada tepat di depanku, asapnya melambai mengajak siapa saja untuk segera mencium bibir gelasnya. Dengan pelan tanganmu berada di pundakku lalu meremasnya penuh kelembutan, aku sangat suka saat seperti ini. Aku tengok parasmu dan “selamat pagi”. Tuhan..,pandanganku kabur kepalaku berkunang-kunang, dunia menjadi gelap. Engkau dengan blues merah maron dan shal putih melilit lehermu yang anggun. Lebih indah dari kabut pagi, barisan pinus lembah kali adem sekalipun keangkuhan merapi.

Sayang, mari kita bercakap mengenai kehidupan lalu kita tujukan kepada kehidupan.

Pagi aku buka jendela lebar-lebar

Hanya untuk mendapat sapaanmu selembut dulu

Dan kita besepakat

Mengenai kehidupan se-rumit ini

Kita bersepakat mengurainya bersama

Menganggap bahwa hidup dan kehidupan sebagai musuh bersama

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.