Kepada Kehidupan
Pada hari ini aku sadar betapa hidup adalah mencintai dan dicintai, lalu membenci dan di benci. Tanpa itu semua dunia tak akan sebagaimana adanya.
Mengenai rindu yang berubah menjadi siksa, sayang. Kisah-kisah ini datang silih berganti, seperti kabut di lembah merapi yang sering kita sambangi. Untuk sekedar merefleksikan apa yang kita pelajari dari bangku-bangku tua bernama universitas atau bercerita tentang impian masing-masing dan rencana di hari esok. Tentunya sembari di temani kopi tubruk yang mulai aku sukai sejak petama kali bertemu engkau dan hati ini menjadi milikmu di detik itu juga.
Pagi ini kabut tipis turun pelan, se-pelan langkah kakimu menjumpaiku di beranda. “selamat pagi”, dan segelas kopi tubruk sudah berada tepat di depanku, asapnya melambai mengajak siapa saja untuk segera mencium bibir gelasnya. Dengan pelan tanganmu berada di pundakku lalu meremasnya penuh kelembutan, aku sangat suka saat seperti ini. Aku tengok parasmu dan “selamat pagi”. Tuhan..,pandanganku kabur kepalaku berkunang-kunang, dunia menjadi gelap. Engkau dengan blues merah maron dan shal putih melilit lehermu yang anggun. Lebih indah dari kabut pagi, barisan pinus lembah kali adem sekalipun keangkuhan merapi.
Sayang, mari kita bercakap mengenai kehidupan lalu kita tujukan kepada kehidupan.
Pagi aku buka jendela lebar-lebar
Hanya untuk mendapat sapaanmu selembut dulu
Dan kita besepakat
Mengenai kehidupan se-rumit ini
Kita bersepakat mengurainya bersama
Menganggap bahwa hidup dan kehidupan sebagai musuh bersama
tinggalkan komentar